Wordpress

Recent Posts

Bangun Tidur Masih Lelah? Ini Penyebab dan Solusinya Menurut Ahli

Senin, 22 Juni 2026
Bangun Tidur Masih Lelah? Ini Penyebab dan Solusinya Menurut Ahli

Bantaeng.co.id
- Banyak orang menganggap tidur selama tujuh hingga delapan jam sudah cukup untuk memulihkan energi tubuh. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit yang justru bangun di pagi hari dengan kondisi tubuh masih terasa lelah, lesu, bahkan sulit berkonsentrasi meskipun telah beristirahat semalaman.

Kondisi ini sering kali dianggap sepele karena dikaitkan dengan aktivitas yang padat atau kurangnya waktu istirahat. Padahal, para ahli kesehatan menyebut rasa lelah yang terus muncul setelah bangun tidur dapat menjadi tanda adanya gangguan pola hidup, kualitas tidur yang buruk, hingga masalah kesehatan tertentu yang perlu mendapat perhatian.

Fenomena bangun tidur tetapi tetap merasa lelah kini semakin banyak dialami masyarakat modern. Pola kerja yang tidak teratur, penggunaan gawai hingga larut malam, tekanan pekerjaan, serta kebiasaan hidup yang kurang sehat menjadi faktor yang turut berkontribusi terhadap menurunnya kualitas tidur seseorang.

Menurut pakar kesehatan tidur dari Dr. Raj Dasgupta, kualitas tidur memiliki peran yang jauh lebih penting dibanding sekadar lamanya waktu tidur. Dalam keterangannya kepada sejumlah media kesehatan internasional (07/04), ia menjelaskan bahwa seseorang dapat tidur dalam durasi yang cukup, tetapi tetap merasa kelelahan apabila siklus tidurnya sering terganggu atau tidak mencapai fase tidur yang dalam.

"Ketika tubuh tidak mendapatkan tidur berkualitas, proses pemulihan fisik dan mental tidak berjalan optimal. Akibatnya seseorang dapat bangun dengan perasaan lelah meskipun telah tidur selama berjam-jam," jelasnya.

Kualitas Tidur Menjadi Faktor Utama
Para ahli menjelaskan bahwa tidur terdiri dari beberapa tahapan yang saling berkaitan. Salah satu fase terpenting adalah tidur dalam atau deep sleep yang berfungsi memperbaiki jaringan tubuh, memperkuat sistem imun, dan memulihkan energi.

Apabila seseorang sering terbangun di malam hari, mengalami mimpi berlebihan, atau tidur dalam lingkungan yang bising, maka siklus tidur dapat terganggu. Akibatnya tubuh tidak memperoleh waktu yang cukup untuk melakukan proses pemulihan secara maksimal.

Gangguan kualitas tidur juga dapat dipicu oleh penggunaan telepon genggam sebelum tidur. Cahaya biru yang dipancarkan layar perangkat elektronik diketahui dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berfungsi mengatur rasa kantuk dan ritme tidur alami manusia.

Stres dan Kecemasan Berpengaruh Besar
Selain faktor fisik, kondisi psikologis juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas istirahat seseorang. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan atau kecemasan berlebih, otak cenderung tetap aktif meskipun tubuh sedang berusaha beristirahat.

Psikolog klinis Dr. Shelby Harris menjelaskan dalam sebuah wawancara kesehatan (15/05) bahwa stres dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf sehingga tubuh sulit memasuki fase tidur nyenyak.

Menurutnya, banyak orang tidak menyadari bahwa pikiran yang terus bekerja saat malam hari membuat kualitas tidur menurun meskipun secara durasi terlihat cukup.

"Stres yang tidak dikelola dengan baik sering kali menjadi penyebab utama seseorang merasa tidak segar ketika bangun di pagi hari," ungkapnya.

Pola Makan dan Gaya Hidup Ikut Menentukan
Kebiasaan mengonsumsi makanan berat menjelang tidur, minuman berkafein pada malam hari, serta konsumsi alkohol juga dapat memengaruhi kualitas istirahat.

Para ahli gizi menjelaskan bahwa sistem pencernaan yang masih bekerja keras saat seseorang tidur dapat mengganggu proses relaksasi tubuh. Begitu pula dengan kafein yang mampu bertahan dalam tubuh selama beberapa jam dan mengurangi rasa kantuk alami.

Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang sering diabaikan. Tubuh yang jarang bergerak cenderung mengalami gangguan ritme biologis sehingga proses tidur tidak berlangsung optimal.

Olahraga ringan secara rutin terbukti membantu tubuh menghasilkan hormon yang mendukung kualitas tidur lebih baik, sekaligus meningkatkan kebugaran saat bangun pada keesokan harinya.

Waspadai Gangguan Kesehatan Tertentu
Dalam beberapa kasus, rasa lelah setelah bangun tidur dapat menjadi tanda adanya kondisi medis tertentu. Salah satu yang paling umum adalah Sleep Apnea, yaitu gangguan yang menyebabkan napas seseorang berhenti sementara berulang kali selama tidur.

Kondisi ini membuat otak terus-menerus terbangun untuk mengembalikan pola pernapasan normal, sehingga kualitas tidur menurun drastis meskipun penderitanya tidak selalu menyadari gangguan tersebut.

Selain sleep apnea, rasa lelah berkepanjangan juga dapat berkaitan dengan anemia, gangguan tiroid, depresi, diabetes, hingga kekurangan nutrisi tertentu seperti zat besi dan vitamin B12.

Dokter spesialis gangguan tidur Dr. Michael Breus mengatakan dalam diskusi kesehatan (22/06) bahwa kelelahan yang berlangsung terus-menerus selama beberapa minggu sebaiknya tidak diabaikan.

Menurutnya, pemeriksaan medis diperlukan apabila rasa lelah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau disertai gejala lain seperti mendengkur keras, sesak napas saat tidur, sakit kepala di pagi hari, maupun penurunan konsentrasi yang signifikan.

Cara Mengatasi Tubuh yang Tetap Lelah Setelah Tidur
Para ahli menyarankan sejumlah langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi rasa lelah saat bangun pagi. Salah satunya adalah menjaga jadwal tidur yang konsisten setiap hari, termasuk pada akhir pekan.

Tubuh manusia memiliki jam biologis yang bekerja lebih baik ketika waktu tidur dan bangun dilakukan secara teratur. Selain itu, membatasi penggunaan gawai setidaknya satu jam sebelum tidur dapat membantu meningkatkan produksi melatonin secara alami.

Menciptakan suasana kamar yang nyaman, gelap, dan sejuk juga menjadi langkah penting untuk mendukung tidur yang lebih berkualitas. Aktivitas relaksasi seperti membaca buku, meditasi ringan, atau mendengarkan musik yang menenangkan dapat membantu tubuh lebih cepat memasuki fase istirahat.

Di sisi lain, menjaga pola makan seimbang, memperbanyak konsumsi air putih, serta melakukan aktivitas fisik secara rutin juga berperan besar dalam meningkatkan energi tubuh secara keseluruhan.

Tidur Berkualitas Menjadi Kunci Kesehatan Jangka Panjang
Bangun tidur dalam kondisi segar bukan hanya soal durasi istirahat, melainkan juga kualitas tidur yang diperoleh sepanjang malam. Ketika tubuh terus-menerus merasa lelah setelah bangun tidur, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki, baik dari sisi gaya hidup maupun kesehatan.

Dengan memperhatikan pola tidur, mengelola stres, menjaga pola makan, dan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila keluhan berlangsung lama, seseorang dapat memperoleh kualitas istirahat yang lebih baik serta menjaga kesehatan fisik dan mental dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, tidur yang berkualitas bukan sekadar kebutuhan harian, melainkan investasi penting bagi produktivitas, daya tahan tubuh, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

(Anastasya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar